Fenomena menarik yang kita lihat ketika bulan suci ramadhan telah tiba berbagai persiapan yang dilakukan oleh seseorang mulai dari persiapan nonmaterial maupun dari segi aspek material. Persiapan nonmaterial yang kami maksudkan disini adalah berkenaan dengan aspek psikis/mental, dan ruhani seseorang. Dari segi aspek ini bulan ramadhan sebagai momentum refleksi diri, penyucian hati (tazkiyah an-nafz), dan berempati diri terhadap orang di sekeliling yang kurang beruntung untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Pada realitas dan momentum sedapatnya kita mengingatkan kita kembali apa yang dikatakan oleh Emile Durkheim (1859-1917) bagaimana kita memberikan rasa solidaritas social yakni kesetiakawanan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama (collective consciousness).
Pada realitas dan momentum sedapatnya kita mengingatkan kita kembali apa yang dikatakan oleh Emile Durkheim (1859-1917) bagaimana kita memberikan rasa solidaritas social yakni kesetiakawanan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama (collective consciousness).
Secara filosofis sosiologis bulan ramadhan tentunya kita semua mempunyai visi dan harapan yang sama yakni untuk mencapai sebuah derajat taqwa (QS. Al-Baqarah 183). Untuk itu di dalam bulan ramadhan ini bisa dikatakan sebagai ajang untuk berfastabikhul khairat (berlomba-lomba) dalam kebaikan. Ketika manusia mengharapakan dan ingin mencapai sebuah derajat taqwa otomatically status social yang kita dapatkan melalui usaha dan kerja keras (achieved status) tidak lagi menjadi domain terhadap diri manusia apapun profesi, pangkat, jabatan yang kita sandang.
Selain itu fenomena menarik yang kita amati adalah ketika pada saat bulan ramadhan tiba, jauh hari sebelumnya persiapan yang bersifat materialpun tidak kalah pentingnya untuk dipersiapakanm mulai dari alat perabotan rumah tangga mulai ditata baik yang bersifat eksterior maupun interior telah diganti yang baru walaupun sebenarnya masih layak pakai dan dapat di pergunakan atau karena tuntutan trasidi yang turun temurun dilakukan. Ini tak ubahnya karena media massa, baik media cetak maupun elektronik yang mempunyai iming-iming yang sangat mempesona untuk merayu para konsumen (pembeli) dengan slogan-slogan yang di sampaikan.
Di media cetak surat kabar misalnya dengan menawarkan berbagai produk makanan, elektronik, sampai fashion yang di polesi dengan nuansa islami dengan menawarkan diskon sekian persen agar para konsumen tergiur tawaran yang diberikan dan secara otomatis para konsumen berlomba-lomba dan ikut antri di tempat pembelian tersebut walaupun pada dasarnya kebutuhan yang akan di belinya hanya bersifat pelengkap (sekunder) dan bersifat keinginan (desire) yang pada dasarnya tak mempunyai batasan.
Sejatinya bahwa momentum bulan ramadhan ini di manfaatkan untuk beribadah pada malam hari dengan melaksanakan ibadah ritual yakni melaksanakan shalat tarawih/witir secara berjamaah tetapi fenomena yang kita lihat dan amati penjualan pasar malampun mendadak ikut ramai terutama yang ada disekitar halaman kami dan mungkin saja ada di sekitar anda, belum lagi tempat yang paling banyak dikerumuni orang yakni yang ada di supermarket maupun minimarket dengan dalih di tempat tersebut mempunyai kenyamanan untuk berbelanja dibandingkan yang ada di pasar tradisional. Anak-anak pun ikut ramai dengan kedatangan bulan ramadhan mereka menyambutnya dengan ekspresi kegembiraan dengan membunyikan petasan dengan dentuman yang begitu keras.
Dengan melihat fenomena sekitar bahwa terkadang manusia mempunyai sifat (animal spirit) semangat berbelanja yang bisa saja mempunyai kemiripan dengan sifat yang ada pada binatang. Selain itu bisa kita lihat di media elektronik tayangan yang ada di TV bermetamorfosa menjadi religius terutama tampilan sinetron yang menjadi primadona bagi kaum hawa sampai berbagai produk iklan yang tawarkan di kemas secara islami. Ketika kita menelusuri secara analitis kritis yang menjadi something problem adalah terjadinya komersialisasi nilai-nilai agama, agama disini menjadi komoditas yang dijual dengan membidik target pangsa pasar tertentu melalui sinetron religius. Nilai-nilai agama tersebut di komodifikasikan ke dalam wilayah-wilayah bisnis dengan menggunakan perspektif teori ekonomi politik dalam analisis Fairchlogh.
Melalui kajian hipersemiotika tanda-tanda tersebut menjadi sebuah nilai tukar, tampilan sinetron yang dikemas secara emosional dan individual untuk menarik dan memikat para penonton, selain itu tampilan yang bersifat humoris di tonjolkan ketimbang memberikan sebuah aspek pencerahan yang mengedapankan nilai edukatif keagamaan. Artispun yang biasanya tampil buka-bukaan kini pada saat bulan ramadhan menutupnya sedemikian islami dengan kata lain untuk meraup keuntungan. Dengan demikian pertanyaan yang bisa kita tujukan kepada diri masing-masing apakah bulan ramadhan ini bisa kita memanfaatkan sebaik mungkin untuk mencapai makam spiritual derajat taqwa ataukah bulan ramadhan ini hanya sebagai simbolitas keagamaan yang bisa saja di komodifikasikan oleh segelintir orang sebagai lahan bisnis ?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar